Pensiunan Polisi Dan Keluarganya Dianiaya Gegara Urusan Tanah

Pensiunan Polisi Dan Keluarganya Dianiaya Gegara Urusan Tanah – Pembunuh bayaran berlaga di Desa Lau Kersik, Kecamatan Gunung Sitember, Kabupaten Dairi, Sumatra Utara. Satu keluarga di desa itu gawat dianiaya barisan aktor memakai linggis, palu serta parang.

“Beberapa aktor sejumlah tujuh orang ini sudah diamankan serta ditahan Polda Sumut,” kata Kapolda Sumut, Irjen Agus Andrianto, Senin (17/6).

Mengenai ke-7 aktor yaitu ST (66) masyarakat Jalan SM Maraja, Tiga Lingga, Dairi yang disebut otak aktor. Setelah itu, W alias Oka (46) masyarakat Medan yang bertindak jadi perencana pembunuhan serta perekrut pelaksana eksekusi.

Ada juga BH (46) masyarakat Aceh Tamiang, JG alias Yudi (40) masyarakat Langkat, BS (21) masyarakat Langkat serta BS (26) masyarakat Labura yang semasing bertindak selaku pelaksana eksekusi serta diupah beragam dari mulai Rp3,5 juta sampai Rp6 juta. Dan MT (61) masyarakat Dairi yang bekerja mengevaluasi rumah korban serta menyiapkan sepeda motor dan uang sebesar Rp10 juta untuk operasional beberapa pelaksana eksekusi.

Insiden ironis ini menerpa keluarga Bangun Sembiring, seseorang purnawirawan polisi. Bangun bersama dengan istri serta ke-3 anaknya dianiaya aktor. Karena insiden ini, ke lima korban harus mendapatkan perlakuan medis dengan intens di rumah sakit.

“Motif aktor menganiaya korban ialah dendam. Permasalahan ini sebetulnya telah berjalan lama, sebab permasalahan tanah,” kata Agus.

Agus menjelaskan beberapa aktor sangat terpaksa ditembak dibagian kaki sebab berupaya menentang petugas waktu lakukan penangkapan. Dari tangan beberapa terduga, petugas mengambil alih tanda bukti berbentuk hp, tiga unit parang, satu batang linggis, lima pasang sarung tangan, palu serta satu unit mobil.

“Beberapa terduga dipakai masalah berlapis pidana eksperimen pembunuhan serta undang-undang perlindungan anak,” katanya.

Eksperimen pembunuhan merencanakan ini berawal waktu keluarga Bangun Sembiring bersengketa tempat dengan satu diantara aktor, Wagino alias OKA. Wagino merasakan sakit hati sebab tempat seluas 1,5 hektar yang diklaim jadi warisan keluarganya dikuasai oleh Bangun. Permasalahan ini bahkan juga menyebabkan sama-sama lapor di antara aktor dengan korban.

Setelah itu, muncul kemauan jahat Wagino. Dia lalu menemui ST yang setelah itu jadi otak tindakan ini, untuk berencana penganiayaan pada Bangun dengan fakta untuk bikin mereka kapok. ST lalu mengambil lima terduga yang lain untuk menyelesaikan korban di tempat tinggalnya. Beberapa aktor dibayar Rp50 juta.

“Beberapa aktor berencana pembunuhan ini semenjak Maret 2019 lalu di Medan serta lokasi-lokasi yang lain. Beberapa waktu sebelum eksekusi dikerjakan, beberapa terduga bergerak ke Dairi,” tutur Agus.

Bahkan juga beberapa aktor bermalam disana untuk cari waktu yang pas jalankan tindakan keji itu. Setelah itu, pada Kamis (30/5) siang sampai malam, beberapa aktor mengawasi rumah korban serta menganalisis jalan keluar untuk kabur usai menghajar.

Jumat (31/5) seputar jam 03.00 WIB, beberapa aktor masuk rumah korban mencungkil pintu.

Istri korban, Ristani Samosir yang kebetulan tidur di ruangan tamu jadi korban pertama yang dianiaya. Kepala Ristani ditabrak memakai palu seringkali sebab berupaya menentang. Sesaat, satu diantara anak korban berumur 10 tahun ditabrak aktor dengan palu.

Bangun sembiring sendiri dibantai di luar rumah sebab waktu insiden tengah tidur di mobil. Ia dibacok memakai parang berkali-kali sampai hampir meninggal. Korban alami beberapa luka hampir di semua anggota badan.

Dua orang anak yang sedang tidur di kamar dibantai. Satu anak wanita berumur 17 tahun, Maria Keke Sembiring tidak lepas dari target aktor. Sesaat kakaknya yang tidur sekamar dengannya dianiaya memakai palu.

Sesudah lakukan eksperimen pembunuhan, beberapa aktor setelah itu kabur ke arah mobil yang disembunyikan di kebun jagung yang tidak jauh dari tempat. Mereka kabur ke Medan untuk menemui ST serta minta bayaran. Dari ST, semasing aktor mendapatkan Rp6 juta. Sesaat Rp20 bekasnya dipakai untuk ongkos operasional.

“Lebih dari dua minggu lakukan perburuan, petugas Polres Dairi dibantu Polda Sumut sukses tangkap beberapa aktor. BH orang pertama diamankan di tempat tinggalnya di Aceh Tamiang pada Sabtu, 15 Juni tempo hari. Beberapa terduga lain diamankan di Medan, Langkat serta Lau Kersik,” tutur Agus.