Truk Bermuatan Lebih Akan Diberantas Dinas Perhubungan

Truk Bermuatan Lebih Akan Diberantas Dinas Perhubungan – Kementerian Perhubungan tengah menegakkan ketentuan untuk memberantas truk yang melewati muatan alias obesitas. Peraturan ini tertuang dalam masalah 277 UU No. 22 Tahun 2009 mengenai Lalu Lintas serta Angkutan Jalan.

“Tiap orang yang masukkan kendaraan bermotor, kereta gandengan, serta tempelan ke daerah RI, membuat, membuat, atau melakukan modifikasi kendaraan bermotor yang mengakibatkan pergantian type, kereta gandengan, kereta tempelan, serta kendaraan spesial yang dioperasikan di negeri yang tidak penuhi keharusan uji type bisa dipidana penjara paling lama 1 tahun atau denda optimal Rp 24 juta,” bunyi masalah itu.

Menurut Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno, dengan penegakan hukum Over Dimension serta Over Loading (ODOL) langkah pemerintah telah pas. Karena, truk obesitas mempunyai efek negatif pada infrastruktur serta unsur keselamatan berkendara.

“Menurut Basuki Hadimulyono Menteri PUPR, tiap tahun negara tidak untung Rp 43 triliun per tahun karena truk obesitas,” tutur Djoko lewat info tercatat.

“Efek ODOL pada infrastruktur serta keselamatan berbentuk mengakibatkan kerusakan jalan serta jembatan, menelan korban jiwa serta bikin rugi negara,” imbuhnya.

Dia mencotohkan masalah paling akhir baru berlangsung di jembatan Way Mesuji, Kab. Mesuji, Sumatera Selatan, kendaraan ODOL sudah mengakibatkan putusnya jembatan di jalan timur KM 200.

Menurut dia hal itu berlangsung bukan lantaran konstruksi jembatan yang ringkih, tetapi beban yang melewati kemampuan membuat tubuh jembatan amblas.

Djoko menyebutkan truk muatan berlebihan bukan tanpa ada fakta. “Tentunya kemampuan barang dapat semakin banyak, harga barang dapat tambah murah, tingkatkan omset tampa harus meningkatkan jumlahnya amada truk baru, tingkatkan penghasilan pengemudi, biaya pengiriman barang relatif murah,” katanya.

Dia meneruskan ada efek negatif pada truk obesitas ini, seperti kerugian negara/warga, kecelakaan angkutan barang bertambah, produktivitas kendaraan tidak optimal, kompetisi usaha angkutan barang tidak sehat, kapasitas atau perform angkutan barang (logistik) jelek, sebab memprioritaskan keuntungan semata-mata dibanding keselamatan.

Untuk mengakhiri permasalahan truk obesitas, Djoko menyorot tidak hanya pengaturan antar-pemerintah, penegak hukum serta aktor usaha, pilihan yang bisa dikerjakan dengan mengubah pengangkutan logistik ke kereta api.

“Di Jawa telah tersambung lintas rel ganda, bisa jadi pilihan mengubah beberapa beban angkutan logistik jarak jauh dari jalan raya ke jalan rel,” kata Djoko